sedih dan nyesek itu adalah dimana gue dipanggil ---, tiga huruf menandakan .... "the end, tamat, selesai, ga ada harapan"
aku enggan menyebut namanya, sejujurnya ingin sekali ku sebut namanya dalam do'a dikala ku selesai sholat, do'a dimana kuberharap dia kan menjadi yang tersayang untukku dan sebaliknya. tapi tidak... aku tidak menyebut namanya dalam do'aku untuk hal dan kepentingan itu, tapi Allah selalu tahu apa yang ada dalam benak tiap makhluknya, tanpa aku harus menyebut namanya dan maksudnya, tanpa ku harus melulu mengucapkan isi hatiku. penciptaku adalah pendengar yang paling setia, , paling sabar, yang selalu ada ketika aku berkeluh dalam kesah. DIA maha tahu, DIA tahu aku menangis dibalik senyum dan tawa ini, DIA tahu aku khawatir terhadap makhluk adam ciptaannya dibalik sikapku yang seperti ini, DIA tahu aku selalu sayang terhadap makhluk adam ciptaanNYA yang satu ini :").
Ku tetap sebut namanya, tetap... karena ia selalu dibenakku dimanapun kapanpun, kuberharap dia selalu berada dalam lindungan sang kuasa, diberi kesehatan, kemudahan dalam segala urusannya dan kebahagiaan dalam setiap tapak langkahnya. Karena saat ini, aku tak lagi leluasa untuk menanyakan "sedang apa, sudah makan atau belum, lagi dimana, dll". itu pertanyaan yang amat lumrah ku dan dia tanyakan satu sama lain, 'PADA SAAT ITU', beberapa waktu lalu. Tapi lain dengan sekarang, tembok tak terlihat yang tinggi nan tebal membatasi kami berdua, sehingga membuat perbedaan yang makin lama makin terasa diantara kami, membatasi kami, atau ini hanya perasaanku yang terlalu berlebihan. Tapi pada kenyatannya ia memang sudah mulai berubah, waktu mulai meluruhkan segalanya. Aku rindu dirimu pada bulan - bulan lalu.
Ingiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn sekali aku sebut namamu, amat sangat ingin sekali.
Durasi sandiwara ini terlalu lama, terlalu panjang, membuatku merasa mulai kelelahan. Oh..betapa kuatnya aku, karena aku tetap bisa melanjutkan hingga saat ini, hingga detik ini, karena aku masih memilikiNYA yang juga selalu menguatkanku menyemangatiku. Aku tahu DIA sedang mengujiku, yang aku tidak tahu adalah kapan ujian ini akan usai, pada siapa semua ini akan berakhir...
ingin sekali aku tanyakan, amat sangat ingin ku bertanya... Tetapi aku terlalu penakut dan pengecut untuk menerima apabila nantinya pil pahitlah yang ia berikan untukku. hmmm itu menandakan bahwa sebenarnya akupun belum siap untuk menerima apabila ia memberikanku sebuah kue tart manis.
apa aku yang harus bertanya?? aku hanya ingin tahu, tahu apa?? aku pun bingung,, sebuah kejelasan mungkin. kejelasan apa?? status?? emg selama beberapa bulan ini dia sedang pendekatan denganku?? betapa percaya diri sekali aku. entahlah... Aku merasa IYA, lalu bagaimana dengannya, apa dia merasa IYA juga sepertiku?? tapi aku tidak tahu isi benak dia, karena aku bukan Tuhan.
Apakah sumber kebahagiaanku selalu menjadi sumber kesedihan orang lain?? sehingga aku selalu tidak dapat meraih kebahagiaan yang aku inginkan, contohnya seperti sekarang ini.. mungkin belum.....