Hey blue, bagaimana kabarmu? lama
sudah aku tak berkunjung di file satu ini. Terlihat debu yang tak terlihat,
serupa dengan hatiku. Setahun sudah aku tak menuangkan kisahku di sini. Aku
mulai di lembar yang baru ya, berharap kisah yang baru akan ikut muncul di
tahun 2014 ini.
Kau tau blue, januari ku di tahun
2014 tidaklah terlalu baik. Berharap bahwa salah satu tanggal dibulan januari itu bisa
aku hapus, agar luka ini tak terasa. Tetapi, tak masuk akal sekali keinginanku satu
ini, dan aku pun harus mengecap pahitnya sebuah pengakuan yang begitu terlambat
dari seseorang terdekat yang begitu aku percaya. Harus bisa diterima dan
ditelan bagaimanapun rasanya, benar? Karena itu adalah salah satu takdir yang
ditorehkan olehNYA untukku.
Berharap semoga rasa yang manis
menanti di depan sana.. mau aku ceritakan sedikit bagaimana kronologis januari
kelamku? J
Aku, bisa dikatakan seseorang
yang terkadang bila menjadi peka, akan sangat peka jadinya. Bila dalam keadaan
cuek, aku akan menjadi salah satu orang yang paaaling tidak peka yang ada di dunia, mungkin. Hahaha..
Kau tahu, seseorang laki-laki
yang begitu berarti dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan lalu. Yah tentu kau tahu blue,
kau tahu sahabatku yang selalu menjadi curahanku tentang si laki-laki pujaanku
itu.
Bagaimana aku menceritakan ini
blue.. setengah hati ingin berbagi, namun hati yang lain memberontak untuk menceritakan,
terlalu pilu dan sedih karena tak pernah sedikitpun aku merasakan yang namanya ditikung
oleh sahabat terbaikku. Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya ku rasa J.
Aku mencoba memahami sahabatku
itu, mungkin sulit baginya untuk berkata jujur lebih awal. Dan
sudah seharusnya pula dia memahami, sulit bagiku untuk menerima situasi ini
dengan cepat.
Walaupun aku melarang mereka, aku
pun tidak akan dapat berjodoh dengan laki-laki itu. Betul kan??
Jadi jalan satu-satunya adalah
ikhlas, bangkit dan jalan terus ke depan.. Jadikan ini pelajaran ... pelajaran apa?? pelajaran untuk dapat memahami perasaan orang lain satu sama lain, pelajaran mengenai norma persahabatan. lol.
Kenyataan yang harus dijalani
saat ini adalah, hubungan persahabatan kami sedikit banyak mengalami perubahan.
Kami yang sebelumnya selalu berkomunikasi bercerita tentang topik apapun hingga
berjam-jam, sekarang tidak lagi. Kami berkomunikasi langsung sangat jarang, aku
cenderung menjaga jarak darinya dan diapun tidak berniat untuk mendekat
denganku. Intensitas kami pun untuk berkomunikasi melalui bbm menjadi sangat
jarang. Ya, aku memang menjaga jarak, aku membutuhkan waktu untuk menetralkan
rasa kecewa ini.
Aku mempersilahkan mereka untuk
meneruskan hubungan mereka bila itu bisa menjadi baik. Karena saat ini tidak
ada rasa cemburuku terhadap hubungan mereka, karena yang begitu kental adalah
perasaan kecewaku terhadap sebuah pengkhianatan yang masih sulit kutelan.
Krisis kepercayaan terhadap orang sekitarku, mulai ku alami. Takut untuk berbagi cerita kepada orang lain..
Kisahku bak kisah sinetron dan
ftv-ftv yang ditayangkan di televisi, tetapi ini memang kenyataannya.
Hahahah...
Aku memiliki cerita lain selain
itu, cerita yang bisa membantu memberikan rasa manis ditengah rasa pahit yang
pekat.
Sebelumnya aku memang memiliki
teman cerita selain sahabatku yang itu. Teman ceritaku satu ini adalah seorang
laki-laki, dia seumuran denganku. Kami sempat satu kelas diawal kami berkuliah,
dan sedikit mengIngat masa lalu....entah apa yang membuat kami dekat dan klop
untuk menjadi teman cerita pada saat itu, hha ... dia mendengarkan dengan sabar
setiap kisahku yang dapat dikatakan cukup membosankan mungkin, tetapi dengan
sabar dia mendengar dan mendengar. Aku begitu tergantung dengan dia, karena aku
bukan tipikal perempuan yang gampang dekat dengan laki-laki. Sekali aku
memiliki teman dekat, dia sahabatku, dan aku menjadi ketergantungan dan kau
tebak perasaan apa selanjutkan yang kurasakan terhadap dia?? Yap, aku
menyukainya, menyukai karena dia mampu memberikan rasa nyaman, dia mampu
membuatku berbunga. Tetapi aku hanya pendam, sampai perasaan terhadapnya
berangsur hilang diganti dengan perasaan serupa kepada orang lain.
Mungkin kau bertanya-tanya dan
bisa menebak-nebak mengapa aku menceritakan sepenggal kisah laluku dengannya,
hahaha. Aku orang yang mudah tertebak,
bila kau memang benar-benar mengena siapa aku..
Singkat cerita...
Desember lalu, kami kembali mulai
berkomunikasi, ya aku saat itu benar-benar memerlukan teman cerita. Aku
bercerita kepadanya mengenai rasa lelahku, terhadap laki-laki yang kusukai
beberapa bulan lalu.. Dia memberiku nasihat dan kami pun mulai membuka obrolan
diluar masalahku, aku merasa seperti.... dia kembali.
Sampai akhirnya tiba di tanggal
di bulan januari yang mengerikan untukku. Aku akhirnya bercerita kepada dia,
mengenai semuanya. Dan dengan keyakinan penuh aku mengatakan bahwa aku dapat
melepas semua perasaanku terhadap laki-laki yang kusukai itu.
Dan hingga kini, aku hanya paling
sering berkomunikasi dengan dia seorang. Apa aku mulai..... bolehkah??
Ketika mereka yang peduli
denganku, mengatakan “gue takut lo patah hati lagi”, aku tersenyum saaaangat simpul, aku merenungi itu. Sering
aku merasakan itu, patah hati. Tetapi bukan berarti aku ingin merasakan itu
kembali untuk yang kesekian kali.
Sudah hampir dua bulan ini diisi
dengan komunikasi yang rajin dengan dia, walau terkadang sempat beberapa hari
tidak kontak. Dihari berikutnya kamu kembali berkabar, bercerita tentang topik
yang beraneka ragam.
Dia sudah banyak berubah,
begitupun dengan statusnya yang tak lagi sama dengan beberapa tahun lalu.
Bolehkah aku berharap? Bisakah? Pertanyaan itu begitu mendengung ditelingaku...
Memulai cerita baru dengan orang
lama...
Dia banyak sekali berubah, dari
segi pergaulan, selera tempat bermain, dan dia sudah mandiri. Hampir menjadi
seorang pria.
Sama seperti dulu, rasa sukaku hanya mampu ku pendam dalam hati. Tak bisa aku membedakan mana yang hanya sekedar guyon mana yang bersifat serius, obrolan kita berisi obrolan yang kadang tidak pada sifat yang seharusnya.
Aku diselimuti rasa minder,
karena aku masih belum siapa-siapa, aku merasa masih belum pantas untuk dapat
berharap. Tetapi apakah salah bila perasaanku terus tumbuh menjadi lebih dari
sekedar sahabat berbagi cerita?
Aku ingin menjadi seseorang, seseorang yang berhasil.. Sehingga aku tidak perlu merasa malu ketika berada disampingnya, karena aku adalah seseorang. Tapi, pada saat itu tiba akankah dia akan berada disampingku?
Aku begitu ingin tahu bagaimana
pandangan dia terhadapku......
0 komentar:
Posting Komentar